{"id":147,"date":"2009-03-16T10:00:21","date_gmt":"2009-03-16T03:00:21","guid":{"rendered":"http:\/\/rezagunawan.deelestari.com\/?p=147"},"modified":"2023-09-20T06:05:16","modified_gmt":"2023-09-19T23:05:16","slug":"ketika-tubuh-sendiri-tak-cukup-dicinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/?p=147","title":{"rendered":"Ketika Tubuh Sendiri Tak Cukup Dicinta"},"content":{"rendered":"<p><strong>Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM \u2013 10 Maret 2009<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-164\" title=\"istock_000005555066xsmall2\" src=\"http:\/\/selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com\/2009\/03\/istock_000005555066xsmall2.jpg\" alt=\"istock_000005555066xsmall2\" width=\"293\" height=\"410\" srcset=\"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/wp-content\/uploads\/2009\/03\/istock_000005555066xsmall2.jpg 293w, https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/wp-content\/uploads\/2009\/03\/istock_000005555066xsmall2-214x300.jpg 214w\" sizes=\"auto, (max-width: 293px) 100vw, 293px\" \/><br \/>\nDalam pengalaman terapi melalui penyembuhan holistik, seringkali saya bertemu dengan berbagai kasus terapi yang pada intinya sangat bertumpu pada seberapa baik hubungan kita dengan satu-satunya kendaraan yang senantiasa menyertai perjalanan hidup ini, yaitu tubuh kita sendiri.<\/p>\n<p>Saya menyebut relasi dan persepsi kita tentang tubuh kita sendiri sebagai <strong>CITRA TUBUH (body image)<\/strong>.  Seandainya perlu didefinisikan, yang paling mendekati adalah: bagaimana kita melihat, menghargai, mencintai dan menerima tubuh kita sendiri.  Persepsi yang tersimpan dalam citra tubuh ini, bisa saja yang kita sadari, namun sering juga yang tersembunyi dalam bawah sadar kita.<\/p>\n<p>Sebenarnya bila dirunut ke awal kehidupan, saya menduga bahwa kita semua dilahirkan dengan citra tubuh yang sehat, atau dengan kata lain, kita bisa menerima tubuh kita apa adanya.  Namun mengapa ada begitu banyak masalah saat kita menjadi dewasa, yang berhubungan dengan kesulitan kita untuk menerima tubuh sendiri apa adanya, bahkan banyak yang secara tidak sadar membenci tubuhnya sendiri?<\/p>\n<p><!--more--><strong>Pengalaman Hidup Mengubah Citra Tubuh yang Sehat<\/strong><br \/>\nSaya cenderung menyimpulkan bahwa bila kita semua lahir citra tubuh yang sehat, dan kemudian berubah saat dewasa, besar kemungkinannya bahwa serangkaian pengalaman kehidupan, baik sengaja maupun tidak, berpotensi mengubah bagaimana kita menerima dan mencintai tubuh kita.  Beberapa sumber berubahnya citra tubuh menjadi kurang sehat adalah:<\/p>\n<ul>\n<li>Kebiasaan kuat dalam keluarga maupun lingkungan untuk senantiasa membanding-bandingkan diri dengan orang lain.<\/li>\n<li>Pola pergaulan yang menekankan bahwa tubuh yang ideal, harus punya ciri-ciri fisik tertentu, sehingga kita jadi senantiasa mendera tubuh kita dengan standar ideal tersebut.<\/li>\n<li>Efek negatif media yang mengkomersialkan ide tentang bentuk &amp; ukuran tubuh yang ideal, terkadang juga dari industri mode &amp; gaya hidup.<\/li>\n<li>Mispersepsi tentang daya tarik fisik dan cinta, yang mengajarkan kita bahwa untuk memperoleh cinta, kita harus memaksimalkan daya tarik fisik kita.<\/li>\n<li>Berbagai trauma yang berhubungan dengan cinta dan seksualitas, yang mulai mencegah kita untuk dapat mencintai tubuh sendiri sepenuhnya.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Masalah yang Berakar Pada Citra Tubuh yang Tidak Sehat<\/strong><br \/>\nBegitu banyak masalah yang bisa muncul dari berubahnya citra tubuh kita.  Dari mulai gangguan fisik, mental emosional hingga kegelisahan spiritual bisa membayang-bayangi kehidupan kita.  Dalam tulisan pendek ini, saya berupaya untuk memberikan spektrum masalah yang bisa muncul, dan untuk memudahkan akan dibagi menjadi beberapa kategori: (1) obsesi mengubah tubuh secara berlebihan, (2) pergaulan sosial yang tak kunjung nyaman, (3) berbagai bentuk adiksi \/ kecanduan, dan terakhir (4) problem cinta dan seksualitas.<\/p>\n<p><strong>Masalah 1: Obsesi Mengubah Tubuh secara Berlebihan<\/strong><br \/>\nRasa kurang suka dan kurang mencintai tubuh kita sendiri, akan mendorong keinginan untuk mengubah tubuh kita.  Keinginan ini sendiri sebenarnya wajar, namun bisa berbahaya ketika sudah menjadi obsesi atau tidak lagi memilah mana cara yang sehat dan aman untuk mengubah diri.<\/p>\n<p>Sebagai contoh umum, kita cukup familiar dengan obsesi untuk melakukan olahraga secara berlebihan, bukan demi kesehatan, namun tak sabar untuk mengubah bentuk dan ukuran tubuh.  Belum lagi penggunaan obat pelangsing yang takarannya lebih dari batas aman tubuh, dari mulai yang bersifat mempercepat metabolisme, menekan nafsu makan hingga mempercepat pembuangan tubuh.   Ada juga berbagai perilaku tidak sehat seperti anorexia dan bullimia yang bisa merupakan cerminan kebencian diri terhadap tubuh.<\/p>\n<p>Kita pun tidak jarang mendengar prosedur bedah plastik yang berulang-ulang, bukan karena tubuh kurang apik, namun hati yang tak kunjung puas.<br \/>\nAda juga yang mencoba dengan jalan diet secara ekstrim, yang tidak saja berbahaya, namun juga segala pola diet terbukti tidak efektif di jangka panjang.<\/p>\n<p>Ketika tubuh sudah mencapai berat badan yang diinginkan, semua perasaan hati yang tak terpuaskan karena selama diet harus menahan diri, seringkali muncul dengan ganas dan seketika mengembalikan kita pada pola makan yang tidak sehat, sehingga muncul istilah diet yo-yo, yang berarti berat badan kita turun naik secara fluktuatif akibat diet dan \u201cbalas dendam makan\u201d yang silih berganti.<\/p>\n<p>Sebenarnya bilamana citra tubuh kita lebih sehat, merawat dan mengolah tubuh dengan olahraga dan asupan gizi yang baik, adalah sesuatu yang sehat dan alamiah.  Namun sebelum citra tubuh menjadi sehat, upaya yang baik seperti olahraga dan mengatur pola makanpun bisa menjadi obsesi yang tak berujung, dan tanpa kita sadari memperkuat kebencian terhadap tubuh kita.<\/p>\n<p><strong>Masalah 2: Pergaulan Sosial yang Tak Kunjung Nyaman<\/strong><br \/>\nKetika ketidaksukaan diri terhadap tubuh sendiri sudah begitu kuat, tidak peduli seberapa kita mengubah tubuh, mempercantik diri, memperindah penampilan, tetap saja kita tidak pernah merasa sepenuhnya nyaman hidup di dalam tubuh ini.  Ketidaknyamanan akan diri sendiri ini akan mewarnai bagaimana kita menjalin pergaulan dan persahabatan.<\/p>\n<p>Bilamana suatu saat Anda merasa letih bergaul karena tidak merasa ada koneksi yang otentik dari hati ke hati, namun yang lebih terasa adalah keramahan yang dibuat-buat, sadarilah bahwa mungkin saja citra tubuh Anda sendiri tanpa sadar telah mengajak Anda untuk lebih bisa diterima oleh lingkungan dengan cara \u201ctidak menjadi diri Anda sendiri\u201d.<\/p>\n<p>Di frekuensi pergaulan seperti ini, ketika kita menampilkan diri dan mengungkapkan diri, batas antara menjaga penampilan menarik yang wajar dengan tampil gaya karena didorong kebencian pada tubuh sendiri, mulai menjadi samar. Samar karena ukurannya bukan pada seperti apa kita menampilkan diri, namun niat apa yang mendasari penampilan tersebut.<\/p>\n<p>Lebih lanjut lagi, citra tubuh tidak sehat ini juga akan menimbulkan seringnya diri merasa tidak pernah cukup baik untuk diterima lingkungan, rasa percaya diri yang sangat rendah, dan bahkan semakin sering menilai dan mengkritik orang lain.  Ketika kita menilai dan mengkritik orang lain yang tidak kita pahami sepenuhnya, seringkali bersumber pada ketidakcintaan kita pada diri dan tubuh kita sendiri, dan menjatuhkan orang lain bisa secara tidak langsung meningkatkan nilai penghargaan kita pada diri sendiri.  Cukup berbahaya bukan?<\/p>\n<p>Padahal ketika kita terus hidup dengan kebiasaan membanding-bandingkan diri sendiri dengan orang lain, ini adalah jalan pintas menuju depresi, rasa cemburu dan iri, serta ketidakbahagiaan.<\/p>\n<p><strong>Masalah 3: Berbagai Bentuk Adiksi \/ Kecanduan<\/strong><br \/>\nKetika ketidaksukaan terhadap diri begitu mengakar kuat, dan kita tidak tahu bagaimana lagi cara mengatasinya, maka kita akan cenderung mudah untuk mencari rasa nyaman yang bersifat instan, meski manfaatnya hanya sesaat, dan terkadang efek jangka panjangnya justru semakin merugikan kita.<\/p>\n<p>Kecanduan \/ adiksi adalah salah satu bentuk pelarian nikmat sesaat yang terbentuk dan menjadi suatu kebiasaan yang mengikat batin.  Dari mulai <em>shop-aholic, food-aholic, work-aholic, sex-aholic, alcoholic<\/em>, kapanpun kita terjebak dalam citra tubuh yang kurang sehat, maka kerentanan kita akan adiksi juga meningkat.<\/p>\n<p>Khusus dalam kasus kecanduan ngemil atau makan, muncul juga paradoks yang cukup menjerat.  Di satu sisi kita ingin berbahagia dengan tampil menarik dengan tubuh ideal, namun di lain sisi, kita memaksakan diri untuk menunda kebahagiaan yang sehari-hari kita peroleh dari menikmati makanan yang kita sukai.  Di dalam tarik menarik antara kebahagiaan bertubuh ideal dengan kebahagiaan menikmati makanan ini, kita menemukan fenomena diet yo-yo (berat badan naik turun silih berganti), dan perasaan hati yang ikut \u2018yo-yo\u2019 (puas kecewa silih berganti).<\/p>\n<p>Inilah juga mengapa banyak pakar penyembuhan, mengatakan bahwa diet saja tidak pernah akan efektif untuk jangka panjang.  Bentuk dan berat badan yang sehat hanya bisa diperoleh ketika akar psikologis dan emosionalnya disembuhkan terlebih dahulu, dengan kata lain citra tubuh perlu dipulihkan kembali sehat.<\/p>\n<p><strong>Masalah 4: Problem Cinta dan Seksualitas<\/strong><br \/>\nDalam ranah kehidupan cinta dan seksualitas kita, yang memang sudah merupakan misteri tersendiri dengan segala kerumitannya, gejolak permasalahan pun sering berakar pada citra tubuh yang tidak sehat.<\/p>\n<p>Pertama, seseorang yang perhatiannya terdominasi oleh tubuhnya semata, akan cenderung sulit untuk merasakan koneksi hati ke hati dengan pasangan cintanya, terutama kalau kebencian diri terhadap tubuhnya sendiri cukup kuat.  Dia akan sering merasa tidak cukup baik untuk kekasihnya, rentan untuk jadi korban manipulasi emosional dari pasangannya, dan cenderung sering menyalahkan, baik dirinya maupun pasangannya, ketika timbul permasalahan.<\/p>\n<p>Selain itu, seseorang yang membenci tubuhnya sendiri akan cenderung ketagihan kenikmatan fisik saja dalam ekspresi seksualnya.  Dia juga cenderung lebih rentan untuk melanggar batasan seksual diri dan pasangannya.  Dalam hubungan seksual, kenikmatan inderawi menjadi batas kepuasan maksimal, kalaupun masih bisa menikmati.  Sulit sekali bisa merasakan koneksitas cinta dari hati ke hati dalam ekspresi seksual, apalagi mengalami transendensi spiritual melalui seks.<\/p>\n<p><strong>Menuju Citra Tubuh yang Sehat<br \/>\n<\/strong>Mencintai tubuh kita sendiri, dalam bahasa sederhana mungkin bisa digamblangkan dengan menerima tubuh kita apa adanya, dengan semangat menghargainya pada takaran yang sehat.  Saya merenungkan 3 buah penghargaan yang bisa muncul ketika citra tubuh kita sehat, yaitu:<\/p>\n<ul>\n<li><strong>Menghargai Keunikan<\/strong>.  Disinilah kita memahami bahwa sama seperti sidik jari yang tidak pernah sama, begitu juga tubuh kita.  Tidak ada standar bentuk dan ukuran tubuh yang WAJIB dipenuhi, dan karena semua individu unik, maka konsekuensi dari keunikan adalah tidak perlu dibanding-bandingkan dengan orang lain yang unik juga.<\/li>\n<li><strong>Menghargai Perubahan Alami<\/strong>.  Kita menyadari bahwa semua tubuh fisik punya fase alamiah yang sama dan dialami setiap orang, yaitu lahir, tumbuh\/tua, sakit, dan pada akhirnya mati.  Sekalipun kita sadar akan kenyataan universal dari tubuh fisik ini, kita bisa tetap merawatnya dengan baik.<\/li>\n<li><strong>Menghargai Perlunya Perawatan<\/strong>.  Tubuh kita adalah satu-satunya kendaraan hidup yang kita miliki.  Dalam takaran yang wajar dan alamiah, kita masih bisa memberikannya nutrisi yang sehat, istirahat yang memadai, olahraga yang sesuai, mengurangi toksin yang kita berikan ke dalamnya, dan tentunya memelihara keselarasan pikiran dan hati.  Perawatan ini tidak dimotori atas semangat mengubah diri karena membenci tubuh, namun karena kita mencintai diri, tubuh dan kehidupan ini.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Sudahkah Anda menyadari kesehatan citra tubuh Anda? Selamat merawat jiwa, memelihara tubuh, merayakan hidup.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM \u2013 10 Maret 2009 Dalam pengalaman terapi melalui penyembuhan holistik, seringkali saya bertemu dengan berbagai kasus terapi yang pada intinya sangat bertumpu pada seberapa baik hubungan kita dengan satu-satunya kendaraan yang senantiasa menyertai perjalanan hidup ini, yaitu tubuh kita sendiri. Saya menyebut relasi dan persepsi kita tentang tubuh kita sendiri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-147","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bfc-cosmopolitan-fm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/147","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=147"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/147\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1156,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/147\/revisions\/1156"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=147"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=147"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=147"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}