{"id":318,"date":"2009-07-17T14:11:08","date_gmt":"2009-07-17T07:11:08","guid":{"rendered":"http:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/?p=318"},"modified":"2023-09-20T06:05:15","modified_gmt":"2023-09-19T23:05:15","slug":"mau-bebas-dari-rokok-jangan-berusaha-berhenti","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/?p=318","title":{"rendered":"Mau Bebas dari Rokok? Jangan Berusaha Berhenti!"},"content":{"rendered":"<p><strong>Siaran BFC Cosmopolitan 90.4 FM 14 Juli 2009<\/strong><em><br \/>\n<\/em><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-319\" title=\"istock_000000421881xsmall\" src=\"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/wp-content\/uploads\/2009\/07\/istock_000000421881xsmall.jpg\" alt=\"istock_000000421881xsmall\" width=\"425\" height=\"282\" srcset=\"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/wp-content\/uploads\/2009\/07\/istock_000000421881xsmall.jpg 425w, https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/wp-content\/uploads\/2009\/07\/istock_000000421881xsmall-300x199.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 425px) 100vw, 425px\" \/><\/p>\n<p>Merokok adalah suatu kegiatan yang begitu susah dilepaskan oleh para perokok, meskipun kita semua sudah kenyang mendengar propaganda bahaya merokok bagi kesehatan. Saya pribadi tidak berpendapat bahwa merokok itu baik bagi kesehatan. Hanya saja, dalam pengamatan saya dari pengalaman terapi, berbagai upaya yang umum dilakukan untuk berhenti dari kebiasaan merokok seringkali kurang efektif. Dan lebih aneh lagi, berbagai upaya berhenti merokok justru seringkali membuahkan hasil yang sebaliknya, yakni malah memperkuat kebiasaan merokok tersebut.<\/p>\n<p>Kali ini, saya mengundang Anda untuk memahami kembali psikologi dan mekanisme kebiasaan merokok dan sekaligus menawarkan sudut pandang berbeda.\u00a0 Kalau boleh memberikan kesimpulan akhir di awal perenungan kita, kira-kira bunyinya begini:<\/p>\n<p><em>\u201cJika Anda ingin bebas dari kebiasaan merokok, lepaskanlah semua keinginan, upaya, dan fokus untuk berhenti secara permanen dari merokok.\u201d<\/em><\/p>\n<h3><!--more-->Pendekatan Umum untuk Berhenti Merokok<\/h3>\n<ul>\n<li><strong>Niat dan tekad yang kuat<\/strong> Secara statistik, hanya 2% perokok yang berhasil menggunakan metode ini.\u00a0 Saya tertarik untuk mencari metode yang bisa menolong 98% perokok yang tidak berhasil berhenti karena tidak cocok dengan metode niat\/tekad ini.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li><strong>Terapi Pengganti Nikotin <\/strong>Meskipun ada sebagian orang yang berhasil lepas dari kegiatan merokok akibat stiker maupun jenis nikotin pengganti lainnya, saya tidak pernah habis pikir: apabila kita sudah bebas dari adiksi terhadap nikotin berbentuk rokok, apakah kita layak menganggap diri bebas dari adiksi nikotin, kalau masih menggunakan bentuk nikotin yang lain?<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li><strong>Hipnoterapi <\/strong>Sebagai seorang hipnoterapis, saya tidak berhasil menemukan kesesuaian maupun tingkat keberhasilan yang baik dari metode ini.\u00a0 Saya menemukan bahwa selama klien masih punya KEINGINAN KUAT untuk BERHENTI merokok, sugesti hipnotis yang diberikan biasanya hanya bisa membantu untuk jangka pendek dan tidak mampu memberikan support dan manfaat jangka panjang.\u00a0 Lebih lagi, mengingat batin bawah sadar adalah aspek dalam diri yang sangat kuat, sebenarnya tidaklah aman ketika sebagian teknik hipnoterapi melakukan penggunaan sugesti negatif. Penggunaan kalimat sugesti hipnotis, baik yang diberikan saat trance maupun dalam percakapan biasa, yang berkonotasi \u201ctakutlah dengan akibat dari kebiasaan merokok\u201d justru mengandung risiko bahwa tubuh akan memproduksi apa pun yang kita takutkan tersebut menjadi kenyataan. Tanpa bermaksud menyinggung siapapun, saya ingin menyampaikan pengamatan bahwa terkadang para praktisi hipnoterapi pun bisa lupa bahwa perumusan sugesti hipnotis bisa dibuat sedemikian kuat hingga justru membahayakan klien.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li><strong>Akupunktur<\/strong> Sebagai seorang akupunkturis, saya tidak menemukan juga efektivitas yang tinggi melalui metode ini. Barangkali karena banyak akupunkturis yang terlalu fokus pada aspek detoksifikasi tubuh atas nikotin, tetapi kurang mengarahkan terapi pada aspek psikologis pasien yang sebenarnya merupakan gudang pemicu perilaku merokok.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li><strong>Makan <\/strong>Melarikan dari kebiasaan merokok ke kebiasaan konsumsi baru (seperti makan atau mengunyah permen karet) kurang tepat jika disebut sebagai penyembuhan karena lebih bersifat pelarian. Tidak jarang pula pelarian ini merupakan objek adiksi baru yang belum tentu juga sehat.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Mungkinkah ada pendekatan yang lebih natural dan lebih mudah?\u00a0 Ada yang bilang, bahwa upaya untuk berhenti merokok biasanya harus dilakukan antara 3-6 kali hingga mencapai keberhasilan. Benarkah?<\/p>\n<h3>Mengapa Jangan Berusaha Berhenti Merokok?<\/h3>\n<p>Dari sudut pandang medis, Dr. Joseph Mercola, seorang dokter yang sangat mempopulerkan merawat kesehatan secara alami, justru menganjurkan agar seorang perokok jangan LANGSUNG BERHENTI merokok.\u00a0 Alasannya?\u00a0 Dalam rokok tersimpan berbagai zat yang bersifat obat, yang bilamana sudah dikonsumsi sekian lama maka tingkat metabolisme tubuh juga bergantung pada pasokan obat tersebut.\u00a0 Bila rokok tiba-tiba dihentikan tanpa merawat kebutuhan nutrisi yang cukup dan gaya hidup yang sehat, maka bisa terjadi perubahan drastis metabolisme tubuh yang bisa saja mengakibatkan efek buruk yang tidak diinginkan (salah satunya peningkatan berat badan).<\/p>\n<p>Sementara menurut sudut pandang saya sendiri, begitu seseorang berkeinginan untuk berhenti merokok secara PERMANEN, dia otomatis masuk ke dalam kerangka berpikir \u201cBerhasil\/Gagal\u201d:\u00a0 apakah saya bisa berhenti merokok selama-lamanya, ataukah saya akan gagal dan kembali merokok seperti yang sudah terjadi sebelumnya?<\/p>\n<p>Masuk ke dalam kerangka berpikir \u201cBerhasil\/Gagal\u201d ini justru akan membuat kita memaksakan diri untuk berhasil.\u00a0 Setiap pemaksaan diri, meskipun untuk tujuan yang baik, akan menyebabkan STRES TAMBAHAN di bawah sadar.\u00a0 Mengingat sebagian perokok menggunakan kebiasaan merokok untuk melegakan diri, menciptakan rasa nyaman, atau melepaskan stres, maka STRES TAMBAHAN ini justru meningkatkan peluang perilaku merokok untuk terulang kembali.<\/p>\n<h3>Siklus \u201cMerokok Yo-Yo\u201d<\/h3>\n<p>Pada fenomena diet berambisi langsing, fenomena menarik ini juga terjadi. Dalam jangka pendek, bisa saja tekad dan fokus kita untuk berbadan ideal terlaksana. Namun, begitu target tercapai, ada energi kompensasi yang mendorong kita untuk makan dan mengumpulkan kembali berat badan yang hilang.\u00a0 Ini yang disebut \u201cdiet yo-yo\u201d. Dan kita bisa menggunakan metafora yang sama dengan \u201cmerokok yo-yo\u201d.<\/p>\n<p>Siklusnya seperti ini:<br \/>\nTakut risiko merokok \u2192 Ingin berhasil berhenti merokok \u2192 Mengumpulkan tekad sekuatnya untuk memaksakan diri berhenti secara permanen \u2192 Berhasil mengurangi\/berhenti merokok dalam jangka pendek \u2192 Muncul pemicu perilaku merokok (mis. stres) \u2192 Timbul keinginan merokok lagi, tapi sudah bertekad berhenti \u2192 Terjadi konflik batin antara ingin merokok supaya lega dan ingin berhenti merokok secara permanen \u2192 Konflik batin semakin kuat, stres semakin tinggi \u2192 Ketika stres sudah melalui ambang toleransi, kemampuan berpikir jernih hilang dan akhirnya kita kembali ke pola\/kebiasaan lama dalam mengatasi stres \u2192 Mulai merokok lagi \u2192 Menguatnya memori bahwa merokok itu melepaskan stres \u2192 Kecewa dan MERASA GAGAL karena tidak berhasil berhenti secara permanen \u2192 Semakin takut tidak bisa lepas dari rokok \u2192 Siklus ini berulang lagi, dst.<\/p>\n<p>Siklus tersebut begitu kuat dan mengikat sehingga kita perlu memahami bahwa untuk bebas dari rokok, kita tidak boleh masuk ke dalam kerangka berpikir \u201cBerhasil\/Gagal\u201d.\u00a0 Bagaimana caranya?\u00a0 JANGANLAH BERUSAHA BERHENTI MEROKOK.<\/p>\n<p>Ya betul, saya tidak bergurau. Semakin Anda berusaha berhenti, justru seringkali hasil sebaliknya yang Anda peroleh. Bahkan sebenarnya berhenti merokok itu begitu mudah dan bisa dicapai tanpa berupaya berhenti, kalau Anda sudah melepaskan keinginan untuk berhenti.<\/p>\n<p>Berhenti merokok akan sangatlah sulit bagi para perokok yang sangat ingin berhenti.<\/p>\n<h3>Memahami Jerat Rokok Dengan Jeli<\/h3>\n<p>Untuk bisa bersahabat dan terbebas dari adiksi, kita perlu memahaminya dengan lebih dekat dan jernih.\u00a0 Banyak orang berkonsep bahwa melepaskan benda kecil sekian sentimeter itu sebenarnya perkara mudah.\u00a0 Saya bukannya tidak setuju, tapi kita perlu juga membarengi dengan pengetahuan bahwa sebenarnya jerat kebiasaan merokok itu terdiri dari ribuan simpul rumit yang mengikat sistem tubuh dan batin kita.<\/p>\n<p>Kalau seluruh simpul ini, baik simpul ketergantungan secara fisik maupun ketergantungan secara psikologis, sudah menjadi jerat kompleks dalam tubuh maupun batin kita, tidaklah sulit memahami mengapa segala upaya untuk terbebas dari rokok bisa menjadi perjuangan yang diwarnai jatuh bangun bagi banyak orang.<\/p>\n<p>Di satu sisi, secara fisik memang sebatang rokok mengandung zat-zat yang menyebabkan keterikatan (adiksi) secara fisik.\u00a0 Artinya, bilamana dihentikan, maka tubuh akan merasakan kehilangan dan menuntut untuk diberikan kembali jatahnya.\u00a0 Memang tuntutan tubuh untuk kembali diisi nikotin tidak terasa seekstrem fenomena \u201csakaw\u201d pada pengguna obat-obatan terlarang, tapi justru karena permintaan tersebut tidak terlalu ekstrem, para perokok cenderung merasa \u201ctidak terpenjara\u201d oleh nikotin\u00a0 dan menganggap bahwa dirinya tidak kecanduan.\u00a0 Dari sudut pandang tersebut, rokok sebenarnya menjerat lebih kuat daripada narkoba, karena zat dalam rokok mengikat tanpa membuat kita sadar bahwa diri kita terikat.<\/p>\n<p>Di lain sisi, bisa ada puluhan bahkan ribuan jerat rokok yang tidak bersifat ketergantungan fisik melainkan lebih bersifat jerat psikologis yang mengikat kita terhadap \u201ckegiatan\u201d merokok, bukan melulu pada rokoknya. Jerat psikologis tersebut bisa berupa memori serta kebiasaan, misalnya:<\/p>\n<ul>\n<li>Berbagai memori tentang rasa lega dan nyaman ketika merokok.<\/li>\n<li>Ingatan tentang bagaimana merokok melepaskan stres.<\/li>\n<li>Ingatan tentang bagaimana rokok adalah sahabat terbaik dalam kesendirian.<\/li>\n<li>Ingatan menyenangkan berkumpul dengan teman-teman sambil merokok.<\/li>\n<li>Keyakinan bahwa merokok membuat seseorang lebih kreatif.<\/li>\n<li>Keyakinan bahwa merokok membuat proses berpikir dan produktivitas lebih lancar.<\/li>\n<li>Kebiasaan nikmatnya merokok setelah makan, atau setelah bercinta.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Dari berbagai pengalaman dan pengamatan saya, tidak hanya pada kasus merokok, obat terkuat yang paling ampuh untuk menyembuhkan jerat memori dan kebiasaan hanyalah satu. Dan itu bukanlah membentuk memori atau kebiasaan baru yang lebih positif.\u00a0 Tahukan Anda apa kuncinya?<\/p>\n<p>Obatnya adalah PERHATIAN yang sadar dan jernih.<\/p>\n<h3>Jerat Yang Lepas Sendiri Tanpa Usaha Sengaja<\/h3>\n<p>Setelah sempat mengeksplorasi berbagai cara untuk berhenti merokok yang sudah saya sebutkan sebelumnya, dan pada saat yang sama mengajarkan keterampilan Self Healing di berbagai pelatihan, saya menemukan fenomena yang aneh.<\/p>\n<p>Saya menemukan beberapa peserta Self Healing yang, setelah mulai berlatih keterampilannya secara mandiri dan hidup lebih sehat, tiba-tiba berhenti sendiri merokok.\u00a0 Anehnya, mereka tidak pernah melakukan upaya yang terfokus khusus untuk bebas dari merokok.<\/p>\n<p>Sebenarnya, fenomena ini juga bisa terjadi pada mereka yang belum belajar keterampilan Self Healing.\u00a0 Pernahkah Anda mendengar cerita-cerita bebas dari rokok seperti:<\/p>\n<ul>\n<li>Suatu hari, si perokok tiba-tiba merasa \u201cah, saya tidak ingin merokok lagi\u201d, dan sejak itu mereka berhenti merokok.<\/li>\n<li>Seseorang yang memulai kebiasaan jogging pagi dan setelah sekian lama ia baru menyadari bahwa sudah lama sekali ia tidak merokok sebatang pun.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Setelah saya renungi dan amati lebih lanjut, ternyata ada sebuah jalan lain yang sebenarnya mampu membebaskan kita dari rokok. Namun, karena tidak pernah kita soroti dengan jeli, mereka yang berhasil melalui jalan itu kita anggap sebagai sebuah kebetulan belaka, atau kita anggap berhasil karena tekadnya kuat.<\/p>\n<p>Jalan itu bernama \u201cTanpa sengaja, tiba-tiba terbebas dari rokok\u201d.<br \/>\nMengapa ini bisa terjadi?<\/p>\n<h3>Pengamatan dari Mereka yang Berlatih Self Healing<\/h3>\n<p>Pada awal mulai berlatih keselarasan lahir batin, segala pemicu yang membuat ingin merokok ternetralisir oleh latihan mereka sendiri seperti:<\/p>\n<ul>\n<li>Rasa tegang yang tadinya hanya bisa dicairkan dengan merokok mulai berkurang karena sering berlatih relaksasi dan pernapasan.<\/li>\n<li>Stres dan masalah yang biasanya membuat ingin merokok mulai bisa dilepaskan secara alami tanpa bantuan rokok.<\/li>\n<li>Trauma\/luka batin yang menjadi bagian dari adiksi dan biasanya harus dilarikan dengan merokok mulai bisa disembuhkan sendiri, sehingga tidak lagi ada alasan untuk pelarian dan lebih bisa menghadapi hidup dengan jernih.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Setelah sekian lama berlatih, mereka juga mulai mengalami detoksifikasi alami tubuh\/ pikiran, sehingga segala sisa zat yang bersifat adiktif maupun berbagai memori dan kebiasaan seputar merokok mulai melemah dengan sendirinya. Tanpa berusaha berhenti.<\/p>\n<p>Akhirnya, ketika sudah semakin terampil Self Healing, kita semakin peka akan kebutuhan tubuh dan mulai lebih bisa merasakan respon tubuh terhadap berbagai kegiatan serta zat yang kita masukkan ke dalamnya.\u00a0 Suatu saat, tanpa disengaja, secara naluriah kita mulai ingin makanan yang lebih sehat dan lidah mulai kehilangan selera terhadap zat yang kurang membahagiakan tubuh kita. Pada saat itulah si perokok seringkali tiba-tiba tidak bisa meneruskan kenikmatan merokok dan akhirnya terbebas sendiri, sekali lagi, tanpa sengaja. Tanpa usaha.<\/p>\n<h3>Latihan Memperkuat Perhatian Merokok<\/h3>\n<p>Seperti disebutkan sebelumnya, obat terampuh dari berbagai memori dan kebiasaan yang menjerat adalah PERHATIAN yang sadar dan jernih.\u00a0 Jadi, setelah melepaskan berbagai upaya dan ambisi untuk berhenti merokok, Anda bisa mencoba latihan-latihan berikut ini.<\/p>\n<p>Catatan: latihan ini tidak dirancang untuk berhenti merokok, melainkan untuk memperkuat perhatian yang sadar dan jernih tentang kegiatan merokok.\u00a0 Jika dilakukan tanpa niat untuk berhenti merokok, latihan-latihan seputar merokok ini bisa bermanfaat untuk membantu kita mengenal diri, mengasah kesadaran dan perhatian tentang merokok, serta membantu kita lebih sehat lahir batin\u2014tanpa harus berhenti merokok.<br \/>\n<strong><br \/>\nLatihan #1 &#8211; Menunda: <\/strong><br \/>\nLatihan ini saya sajikan setelah terinspirasi Pak Purnawan EA, seorang hipnoterapis yang sangat arif.\u00a0 Beliau mengatakan, kalau kita sudah telanjur merekam nikmatnya merokok maka berusaha berhenti permanen dari merokok sangatlah sulit.\u00a0 Adakah cara yang lebih mudah ketimbang berusaha berhenti?\u00a0 Cobalah MENUNDA DENGAN SADAR DAN SENGAJA.\u00a0 Selama ini para perokok sudah berhasil melakukan latihan menunda, meskipun tidak secara sadar dan sengaja.\u00a0 Para perokok mampu menunda merokok ketika sedang sibuk, atau berada di zona non-merokok, saat tidur malam hari, saat berpuasa, dll.<\/p>\n<p>Ketika dorongan ingin merokok muncul, Anda bisa memutuskan untuk menunda merokok selama 1 jam, 1 hari, 1 minggu, 10 tahun, bahkan seumur hidup.\u00a0 Ini akan lebih mudah dijalani karena menunda bukanlah suatu kemustahilan.\u00a0 Sementara berhenti permanen, yang mewakili hilang totalnya sumber kenikmatan yang telanjur terekam kuat, membuat kita semakin stres dan malah ingin merokok kalau sudah tidak tahan.<\/p>\n<p>Ingat, tidak ada yang permanen dalam hidup ini. Latihan menunda membuka peluang bagi kita untuk memilih antara kapan mau merokok dan kapan tidak merokok.\u00a0 Setelah masa tunda berakhir, silakan pilih: apakah mau menunda lebih jauh, atau menikmati rokok seperti biasa?\u00a0 Latihan menunda juga tidak membuat kita terjebak dalam kerangka pikir \u201cBerhasil\/Gagal Berhenti Permanen\u201d, kan?<\/p>\n<p><strong>Latihan #2 &#8211; Bernapas Tanpa Rokok: <\/strong><br \/>\nMungkin analogi berikut akan membantu: seandainya kita sedang gatal dan kemudian kita menggaruk gatal tersebut dengan satu tangan sementara satu tangan lagi sedang merokok, bisa saja kita menarik kesimpulan yang tidak tepat, yakni: merokok bermanfaat menghilangkan gatal. Tentu kesimpulan itu tidak benar. Namun, mereka yang perhatiannya tidak jernih belum tentu bisa membedakan apa yang sebenarnya menghilangkan gatal tersebut.<\/p>\n<p>Dari contoh tersebut, cobalah tengok lagi semua kesimpulan kita bahwa merokok itu melegakan, nikmat, meringankan stres dan beban pikiran.\u00a0 Mungkinkah bahwa sebenarnya manfaat tersebut bukanlah bersumber dari produk rokok itu sendiri, melainkan dari kegiatan kita yang berhenti sejenak untuk rileks, dan menikmati keluar masuknya napas?<\/p>\n<p>Cobalah sendiri: hentikan sejenak kegiatan Anda, sekadar berniat untuk rileks dari ketergesaan dan kesibukan, lalu mulai bernapas dengan sadar dan sengaja.\u00a0 Hirup napas dengan sangat lembut, rasakan ke dalam diri, lalu embuskan dengan perlahan dan lega.\u00a0 Setelah melakukan ini beberapa menit, tidakkah Anda merasa lebih nyaman?\u00a0 Inilah rahasia mengapa rokok itu bisa kita nikmati. Bukan karena rokoknya, melainkan karena kita bernapas secara sadar dan sengaja.<\/p>\n<p>Ketika kita rutin melatih napas yang dilakukan secara sadar dan sengaja, pada saat itulah kita mulai membentuk pengalaman langsung bahwa napas merupakan kunci kenikmatan dan kelegaan. Pengalaman baru itu akan membentuk memori baru yang otomatis akan melonggarkan memori lama yang menganggap bahwa kenikmatan yang kita dapatkan berasal dari produk rokok.<\/p>\n<p><strong>Latihan #3 &#8211; Merokok dengan Perhatian 100%: <\/strong><br \/>\nLatihan ini terinspirasi dari renungan Osho.\u00a0 Prinsipnya sederhana, gunakan kegiatan merokok sebagai latihan meditasi.\u00a0 Tahu bagaimana orang Jepang melakukan upacara minum teh? Mereka menghayati proses minum teh, seolah-olah terdiri dari 1000 tahap, dan benar-benar melakukan tahap demi tahapnya dengan perhatian 100%.<\/p>\n<p>Anda juga bisa melakukan \u2018upacara merokok\u2019 dengan perhatian 100%.\u00a0 Mulai dari merasakan dorongan ingin merokok, sadari bahwa Anda pindah ke ruangan di mana Anda seolah akan \u2018menyembah Dewa Rokok\u2019, mengambil sebatang rokok, menyalakannya, mendekatkannya ke mulut Anda, menghirupnya dengan nikmat, merasakan asapnya di dalam tubuh Anda, lalu mengembuskannya dengan lega.\u00a0 Setiap bagian kecil dari kegiatan merokok perlu dihayati dan dirasakan dengan perhatian 100%.\u00a0 Artinya tidak boleh sambil ngobrol, melamun, kerja, nonton, atau melakukan kegiatan lain secara berbarengan.\u00a0 Hayati dengan perhatian penuh tanpa sebersit pun niat untuk berhenti merokok.\u00a0 Nikmati sepenuh hati.<\/p>\n<p>Apakah Anda harus melakukan upacara itu di setiap batang rokok?\u00a0 Tidak. Cukup TIGA batang dari berapa pun batang rokok yang Anda konsumsi tiap hari. Nikmatilah tiga batang itu dengan perhatian dan penghayatan total. Selebihnya, silakan merokok seperti biasa.<\/p>\n<h3>Resep Bebas dari Rokok Tanpa Berusaha Berhenti<\/h3>\n<p>Dari semua perenungan di atas, berikut adalah resep intinya:<\/p>\n<ul>\n<li>Jangan berusaha untuk berhenti, dan lepaskan keinginan untuk berhenti permanen.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Mulailah meningkatkan kualitas kesehatan fisik: asupan nutrisi yang baik, mulai berolahraga, dan memberikan kesempatan beristirahat yang cukup.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Melatih seni rileks, lega, dan selaras, melalui belajar keterampilan Self Healing. (silakan baca informasi lengkapnya <a title=\"Pelatihan Self Healing\" href=\"http:\/\/truenaturehealing.net\/selfhealing\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">disini<\/a>)<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Melatih 3 Latihan Memperkuat Perhatian Merokok yang telah dijelaskan di atas.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Lebih penting lagi, saya juga menganjurkan kita untuk tidak mendesak, mendorong, apalagi memaksa orang lain untuk berhenti merokok, karena anjuran tersebut bisa menyebabkan orang tersebut semakin merasa tidak diterima atau dicintai dan akhirnya menimbulkan stres yang menyebabkan dia semakin ingin merokok.<\/p>\n<p>Kalau Anda tidak ingin menghirup udara yang bercampur asap rokok, menyingkirlah, atau buat kesepakatan dengan para perokok untuk sama-sama menjaga kebersihan udara yang ingin dinikmati para non-perokok.\u00a0 Itu lebih baik, bijak, dan adil, daripada menuntut orang lain untuk berhenti dari sebuah kebiasaan yang jeratnya kadang begitu erat.<\/p>\n<p>Selamat menghirup udara segar!<\/p>\n<p><em>Terimakasih telah menikmati tulisan ini. Bila Anda menyukainya, silakan berbagi dengan para sahabat &amp; keluarga Anda, dengan menyebutkan sumbernya di <strong>rezagunawan.deelestari.com<\/strong>. Anda pun bisa langsung mengetahui berita terbaru tentang tulisan &amp; kegiatan pelatihan dengan mengikuti saya di <a title=\"Reza Gunawan @ Twitter\" href=\"http:\/\/twitter.com\/rezagunawan\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Twitter<\/a>. <\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siaran BFC Cosmopolitan 90.4 FM 14 Juli 2009 Merokok adalah suatu kegiatan yang begitu susah dilepaskan oleh para perokok, meskipun kita semua sudah kenyang mendengar propaganda bahaya merokok bagi kesehatan. Saya pribadi tidak berpendapat bahwa merokok itu baik bagi kesehatan. Hanya saja, dalam pengamatan saya dari pengalaman terapi, berbagai upaya yang umum dilakukan untuk berhenti [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-318","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bfc-cosmopolitan-fm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/318","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=318"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/318\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1148,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/318\/revisions\/1148"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=318"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=318"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=318"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}