{"id":44,"date":"2009-01-23T21:29:23","date_gmt":"2009-01-23T14:29:23","guid":{"rendered":"http:\/\/selfhealingrezagunawan.wordpress.com\/?p=44"},"modified":"2023-09-20T06:05:16","modified_gmt":"2023-09-19T23:05:16","slug":"berubah-alamiah-kecil-sadar-setia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/?p=44","title":{"rendered":"Berubah Alamiah: Kecil, Sadar &amp; Setia"},"content":{"rendered":"<p><strong>Siaran BFC <\/strong><strong>90.4 <\/strong><strong>Cosmopolitan FM <\/strong><strong>&#8211; 26 Agustus 2008<\/strong><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-176\" title=\"istock_000003104982xsmall2\" src=\"http:\/\/selfhealingrezagunawan.files.wordpress.com\/2009\/01\/istock_000003104982xsmall2.jpg\" alt=\"istock_000003104982xsmall2\" width=\"424\" height=\"283\" \/><\/p>\n<p>Kita seringkali merasa ada sesuatu yang kurang baik tentang sifat, kebiasaan, perilaku dan diri kita.  Setiap saat, terutama di awal tahun ketika banyak orang merumuskan resolusi awal tahunnya, ada energi dan upaya besar untuk MEMPERBAIKI DIRI.<\/p>\n<p>Namun hampir selalu upaya mengubah diri dalam rangka perbaikan ini berakhir pada kegagalan.  Bahkan gagal mengubah diri ini pun, semakin memperburuk perasaan kita, karena kita semakin menghakimi diri lebih lanjut seperti &#8220;Sudah punya kebiasaan buruk, tak mampu memperbaiki diri, pula!&#8221;.<\/p>\n<p>Dalam perenungan ini, marilah kita telusuri darimanakah rasa kurang cukup baik ini muncul, bagaimana sebenarnya baik belum tentu baik, buruk pun belum tentu buruk, serta bagaimana mengupayakan perubahan yang alamiah, tidak dipaksakan, dan bermanfaat bagi kehidupan kita.<\/p>\n<p>Yang menarik, salah satu kesimpulan dari diskusi ini, justru kita perlu melonggarkan semua upaya untuk mengubah diri secara besar, dan justru perlahan-lahan belajar menerima diri kita apa adanya<br \/>\n<!--more--><br \/>\n<strong>Pudarnya Diri Apa Adanya &amp; Lahirnya Diri &#8216;Palsu&#8217;<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Ketika kita terlahir ke dunia sebagai seorang bayi, kita masih dalam keadaan polos dan mampu bamenerima diri sendiri sepenuhnya, apa adanya. Namun, dalam proses pertumbuhan menuju dewasa, pengaruh yang dituangkan ke dalam batin si bayi oleh keluarga, sekolah dan lingkungan perlahan-lahan mengajarkan bahwa tidaklah baik untuk menjadi diri sendiri apa adanya.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Hasil akhir berbagai pengkondisian ini bisa beragam, bisa saja membentuk seseorang menjadi sosok yang minder, atau justru memiliki rasa percaya diri yang berlebihan. Manapun yang dialami, dia akan mengalami kesulitan untuk menjadi dan menerima diri sendiri apa adanya. Meskipun pengkondisian berawal dengan niat yang positif, yakni agar orang yang bersangkutan bisa bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya, namun juga berakibat hilangnya diri sejati orang tersebut dan sulit untuk menjadi \u2018apa adanya\u2019 lagi.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Pengkondisian seorang individu paling kuat terjadi hingga usia 6-7 tahun dimana ego dan rasa keterpisahan sudah mulai matang dan seorang anak mulai menjadi individu yang \u2018berdiri sendiri\u2019.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Akibat jangka panjang dari tidak bisa menerima diri sendiri adalah berbagai masalah yang kita alami saat ini sebagai orang dewasa. Contoh misalnya kebiasaan makan berlebihan ketika stres. Hal ini dapat terjadi karena orangtua yang merasa terganggu oleh tangisan anak mereka memilih jalan instan untuk mendiamkan si anak dengan cara memberinya makanan. Tanpa disadari, kebiasaan ini terbawa hingga si anak menjadi dewasa, sehingga membentuk pola dalam hidupnya, yang memicunya untuk \u2018melarikan diri\u2019 dari stres dengan mencari makanan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Kebiasaan Buruk, Benarkah Buruk?<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Dalam banyak situasi, apa yang kita sebut sebagai kebiasaan buruk sebenarnya tidak benar-benar buruk. Persoalannya, kita sudah \u2018terlatih\u2019 untuk berpikir bahwa <em><strong>ada yang tidak beres dengan diri kita<\/strong><\/em>, dimana pikiran inilah yang sebenarnya perlu diperbaiki.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Seringkali kita melihat sebuah kebiasaan sebagai hal yang buruk karena dilihat secara \u2018dangkal\u2019, tanpa menelusuri penyebab munculnya kebiasaan tersebut secara mendalam. Contoh: kebiasaan melamun sering disebut sebagai kebiasaan buruk, namun apabila ditilik lebih jauh, ide-ide kreatif yang kita miliki justru sering timbul ketika kita sedang melamun. Dalam kasus ini, melamun bukanlah sebuah kebiasaan buruk, karena ia justru menjadi sarana untuk munculnya kreativitas.  Jadi <strong>baik atau buruknya suatu pola sebenarnya relatif<\/strong>.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Salah satu kebiasaan diri yang paling kejam dan paling sering menimbulkan stres adalah <strong>MEMBANDINGKAN<\/strong> diri kita dengan orang lain. Kita cenderung berfokus pada kekurangan dan kelemahan yang kita miliki, sehingga kita selalu merasa diri kita lebih buruk, serba kurang dan harus diubah. Hasilnya, pemikiran semacam ini menyebabkan kita \u2018meneliti\u2019 secara berlebihan setiap kebiasaan yang kita miliki dan mengaitkannya dengan kebiasaan buruk.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Bukan Demi Memperbaiki Keburukan, namun Demi Bertumbuh &amp; Berkembang<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Tidak ada yang salah dengan perubahan, dan tidak ada yang salah dengan memiliki keinginan untuk berubah. Yang salah adalah ketika niat berubah didorong oleh penghakiman terhadap diri sendiri karena kita selalu merasa buruk dan serba kurang. Yang seharusnya menjadi pendorong utama untuk mengalami perubahan adalah keinginan untuk bertumbuh dan berkembang. Dalam hal ini, kita menerima diri sendiri apa adanya, dan mengerti bahwa sebagaimana kehidupan terus mengalami perkembangan, kita pun turut bertumbuh bersamanya.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Biarkan diri kita berkembang secara alami tanpa disponsori oleh perasaan negatif, karena perasaan seperti itu justru menghambat terjadinya perubahan. Pemikiran bahwa \u2018saya salah, saya harus memperbaiki diri\u2019 akan selalu memicu terjadinya perubahan yang tidak natural. Sebaliknya, penerimaan yang tulus terhadap diri sendiri akan menyebabkan perubahan terjadi secara alamiah, atau dengan kata lain, perubahan yang kita alami bukan hasil dari sesuatu yang dipaksakan.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Berubah Demi Orang Lain, Sehatkah?<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Tidak ada yang salah dengan mengubah diri demi seseorang yang kita sayangi atau hormati. Namun, ketika tendensi untuk \u2018melayani\u2019 atau \u2018menyenangkan\u2019 orang lain mulai membuat kita menjadi lelah dan stres, kita perlu menunda sejenak refleks kita untuk menyenangkan orang lain dan melihat ke dalam diri sendiri.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Seringkali, seseorang berkorban demi orang lain dengan mengatasnamakan cinta. Jangan tertukar, antara berkorban dengan cinta. Karena kita belum dapat <strong>mencintai diri sendiri sepenuhnya dan apa adanya<\/strong>, kita merasa harus melengkapi kekurangan tersebut dengan mendapatkan &#8216;cinta&#8217; dari orang lain, dan kita memperoleh &#8216;cinta&#8217; itu melalui pengorbanan. Yang seharusnya terjadi adalah, kita berbagi keutuhan dengan orang yang kita cintai, ketimbang mencoba mengisi \u2018kekurangan cinta\u2019 dengan berkorban demi bisa diterima dan dikasihi.<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Berubah Secara Alamiah<\/strong><\/p>\n<p>Kunci untuk menerima diri sendiri agar perubahan yang alamiah dapat terjadi:<\/p>\n<ul>\n<li>Jangan berusaha untuk melakukan perubahan yang besar atau ekstrim.  Makin besar target perubahan, semakin tinggi stres, semakin kuat rasa penghakiman diri yang akan jadi bom waktu. Sadari dahulu penyebab \u2018terpendam\u2019 yang melatari timbulnya sebuah kebiasaan yang kita anggap &#8216;buruk&#8217;.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Longgarkan (bahkan kalau bisa hentikan) kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain, agar kita tidak terbebani dengan rasa \u2018saya harus berubah\u2019.<\/li>\n<\/ul>\n<ul>\n<li>Temukan hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk mengawali terjadinya perubahan, dan terapkan dengan sadar dan setia.<\/li>\n<\/ul>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siaran BFC 90.4 Cosmopolitan FM &#8211; 26 Agustus 2008 Kita seringkali merasa ada sesuatu yang kurang baik tentang sifat, kebiasaan, perilaku dan diri kita. Setiap saat, terutama di awal tahun ketika banyak orang merumuskan resolusi awal tahunnya, ada energi dan upaya besar untuk MEMPERBAIKI DIRI. Namun hampir selalu upaya mengubah diri dalam rangka perbaikan ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-44","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-bfc-cosmopolitan-fm"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=44"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1172,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44\/revisions\/1172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=44"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=44"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.rezagunawan.deelestari.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=44"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}